BATAM, SIJORITODAY.com – -Hari ini, warga Kota Batam kembali ramai bicara soal krisis air bersih. Mereka mengeluh karena debit air yang mengalir ke rumahnya semakin terbatas. Badan Pengusahaan (BP) Batam sebagai pemilik dan pengelola waduk yang menjadi sumber air baku PT. Adhya Tirta Batam (ATB) diminta segera mengambil tindakan agar Batam terhindar dari kris air bersih.

Masalah krisis air bersih di Kota Batam dan sekitarnya, terus menjadi isu strategis dari tahun ke tahun. Bahkan, tak jarang menjadi perbincangan hangat warga hingga ke negara tetangga Singapura. Maklum, banyak warga negara Singapura yang menjadikan Batam sebagai negara keduanya. Apalagi, tahun ini adalah tahun politik. Lagi – lagi pemerintah jadi sasaran kritik yang empuk karena dianggap tak becus mengurusi air bersih.

Sebetulnya, permasalahan air bersih ini bukan semata disebabkan oleh waduk tua yang mengalami pendangkalan. Akan tetapi, krisis air bersih yang terjadi di Batam disebabkan oleh faktor adanya ketidakseimbangan antara cadangan air baku dengan pertumbuhan penduduk dan industri yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Untuk menyiasati kekurangan air bersih di Kota Batam dan sekitarnya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah membangun bendungan Sei Gong di atas lahan seluas 355 hektar dengan biaya Rp238,4 miliar. Namun, kapasitas debit air yang dihasilkan hanya berkisar 400 liter per detik.

Sementara kebutuhan air baku Kota Batam dan sekitarnya mencapai 3.250 liter per detik. Angka ini diperkirakan akan terus mengalami kenaikan seiring dengan pertumbuhan penduduk dan industri di daerah ini. Pembangunan bendungan atau waduk yang membutuhkan lahan cukup luas, juga jadi dilema di tengah keterbatasan lahan yang tersedia di Kota Batam.

Berangkat dari permasalahan krisis air bersih di Batam tersebut, Pemerintah Kabupaten Lingga jauh – jauh hari sudah menawarkan potensi sumberdaya air yang dimilikinya, yakni Air Terjun Jelutung untuk digunakan sebesar – besarnya demi memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat Kota Batam dan sekitarnya. Caranya? Melalui sistem perpipaan bawah laut mengingat jarak tempuh dari Lingga ke Batam tidak lebih dari 100 kilometer.

Tawaran Pemerintah Kabupaten Lingga yang dimotori Bupati Lingga, Alias Wello ini, bukanlah sekedar wacana belaka. Akan tetapi, sudah melalui kajian secara komprehensif yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, antara lain ahli perencanaan wilayah dari Universitas Gadjah Mada, pakar air dari Pusat Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan ahli perpipaan bawah laut yang berpengalaman menangani pemasangan pipa gas dari Natuna ke Singapura.

Salah satu potensi sumberdaya air Kabupaten Lingga yang ditawarkan untuk mengatasi krisis air bersih di Batam dan sekitarnya adalah air terjun Jelutung yang berada di Desa Mentuda, Kecamatan Lingga. Debitairnya sekitar 6.000 liter per detik. Angka ini diperoleh berdasarkan pengukuran debitsesaat oleh Dr. Ir. Arie Herlambang, MS, pakarair dari Pusat Teknologi Lingkungan BPPT pada tanggal 11 Mei 2017. Dari pengukuran itu, juga diperoleh informasi bahwa air terjun Jelutung memiliki Total Dissolved Solid (TDS) 3 ppm. Angka TDS 3 ppm ini menunjukkan bahwa air terjun Jelutung masuk kategori air layak minum dengan salah satu kualitas terbaik di Indonesia.

Secara teknis, penyaluran air bersih dari Pulau Lingga ke Pulau Batam dapat dilakukan melalui sistem perpipaan bawah laut. Sebagai pembanding, pemasangan pipa gas bawah laut dari Natuna ke Singapura dapatdilakukan dalam jarak sekitar 500 kilometer. Menurut ahli perpipaan bawah laut, Ing. Alex AgungMardwiyanto, biaya investasi awal untuk pemasangan pipa air bersih dari Lingga ke Batam sepanjang sekitar 100 kilometer diperkirakan mencapai Rp500 miliar.

Opsi memanfaatkan potensi sumberdaya air Kabupaten Lingga, khususnya dari air terjun Jelutung, adalah solusi jangka panjang untukmengatasi krisis air bersih di Kota Batam,mengingat beberapa waduk yang dibangun juga telah mengalami pendangkalan. Saat ini,Batam kekurangan pasokan air baku sebanyak 1.100 liter per detik.

Untuk membahas persoalan krisis air bersih di Kota Batam dan solusi penyelesaiannya,Pemerintah Kabupaten Lingga bekerjasama dengan BP Batam bermaksud mengundangpara pemangku kepentingan untuk berdiskusikembali, menghasilkan langkah-langkah konktrit dan strategis dalam upayapemanfaatan potensi air terjun Jelutung sebagai solusi mengatasi krisis air bersih di Kota Batam dan sekitarnya.

“Saya sudah komunikasi dengan BP Batam dan kita sepakat berdiskusi dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai narasumber kompeten. Acaranya dijadwalkan tanggal 30 Oktober 2018 di Batam dengan tema diskusi, AirTerjun Jelutung, Solusi MengatasiPermasalahan Air Bersih di Pulau Batam,” ungkap Bupati Lingga, Alias Wello, Selasa (16/10/2018).

Adapun narasumber yang diagendakan dalam FGD tersebut, selain Bupati Lingga dan Ketua BP Batam, panitia juga mengundang Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian PPN/Bappenas, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan RI, Ketua Komisi V DPR RI, Direktur Pusat Teknologi LingkunganBadan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Ahli Perpipaan Bawah Laut. 

Penulis : Akok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here