BATAM, SIJORITODAY.com– – PT. Rubycon Indonesia melakukan perluasan usaha di Batam. Perusahaan Manufaktur Kapasitor ini akan menanamkan modal baru sebesar USD 4 juta, dan menyerap hingga 250 tenaga kerja.

“Sekarang kami tengah memasang mesin-mesin untuk mulai produksi baru. Sementara produknya tetap untuk diekspor ke sejumlah negara,” ujar General Manager PT Rubycon Indonesia, Ridarma Budi Sinaga.

Rubycon merupakan pabrikan kapasitor terbesar ketiga di dunia dan telah beroperasi sejak 19 Juli 1994 di kawasan industri Batamindo. Saa ini perusahaan telah menyewa 9 gedung, dengan total investasi mencapai USD 25.980.235. sementara total tenaga kerja hingga kini mencapai 1.041 orang.

Perusahaan ini telah mengoperasikan bisnisnya di 13 negara di Asia dan Eropa. Namun dengan ekspansi usaha di Batam, Rubycon akan menutup plant manufaktur milik perusahaan yang ada di Malaysia dan Korea. 

Ridarma berharap, keputusan perusahaan memilih mengembangkan plant di Batam diikuti dengan komitmen pemerintah mempermudah aktifitas bisnis. Terutama yang berkaitan dengan pengurusan perizinan dan proses lalu lintas barang.

General Manager Affair Batamindo Tjaw Hoeing mengatakan, beberapa perusahaan Jepang yang memiliki plant di Batamindo juga berniat memperluas usahanya tahun ini. Sebelum Rubycon, ada PT Ekselitas yang telah lebih dulu melakukan perluasan usaha.

Selain perluasan usaha, beberapa Investasi baru dari Jepang juga masuk ke Batam. Diantaranya adalah PT. Maruho Hatsujyo Batam, yang akan menempati 1 gedung pabrik seluas 1.000 m persegi di kawasan Industri Batamindo tahun ini.

Untuk tahap pertama, perusahaan yang bepusat di Kyoto Jepang ini akan menanamkan modal sebesar USD 1,6 juta dan menyerap 70 orang tenaga kerja. Rencananya Maruho Hatsujyo akan mulai beroperasi dalam dua bulan mendatang.

Maruho Hatsujyo merupakan produsen dan penjual Precission Wire yang cukup ternama. Produk perusahaan ini digunakan oleh sejumlah perusahaan besar seperti Mitsubishi, Omron, Panasonic, Sumitomo, Shimano dan sebagainya.

Menurut Ayung, produsen Spring Wire ini telah mengimplemetasikan konsep industri 4.0 dalam produksinya. Perusahaan ini tidak menyerap tenaga kerja terlalu tinggi karena telah menggunakan sistem otomasi industri.

Perusahaan ini juga berpotensi meningkatkan investasinya jika telah merasakan kenyamanan berusaha di Batam. Terutama ketika mereka tak menghadapi kendala dalam proses produksi dan ekspor impor. 

Jaga Daya Saing

General Manager Affair Batamindo Tjaw Hoeing mengatakan, Batam merupakan salah satu kawasan yang dilirik unutk berinvestasi. Namun dengan semakin meningkatnya persaingan dengan sejumlah kawasan sejenis di Asean, Batam harus mampu menjaga daya saingnya.

Jika Batam tak mampu menjaga daya saingnya, maka dampak positif yang bisa dimanfaatkan dari sejumlah momentum globalpun akan terlewatkan. Sebut saja momentum perang dagang yang membuat sejumlah manufaktur di Cina mencari tempat baru di kawasan Asean.

“Saat ini adala momentu paling tepat untuk menarik mereka masuk. Banyak perusahaan yang manufakturnya ada di China berusaha mencari lokasi di luar China. Tapi tentu saja mereka banyak pertimbangan sebelum menentukan mau pindah kemana,” jelasya.

Sejumlah negara di Asean melihat peluang emas ini dan menawarkan berbagai kemudahan untuk menangkap momentum. Vietman menjadi salah satu negara yang mendapat untung besar, sampai-sampai kesulitan menampung limpahan industri yang masuk akibat perang dagang.

Batam yang punya lokasi strategis, harusnya juga bisa mendapatkan manfaat yang sama. Tidka bisa diprediksi sampai kapan perang dagang berakhir. Tapi kerusakan yang ditimbulkan sudah menjadi kecemasan bagi manufaktur di China, sehingga mereka harus mengambil langkah cepat.

“Bagi investor, khususnya investor yang di China sudah tak ada pilihan lagi. Ini dirasakan oleh semua perusahaan yang berdomisili di China,” ujarnya. 

Ada sejumlah masalah yang harus diselesaikan untuk membuat Batam jadi lebih menarik ketimbang kawasan lain di Asean. Diantaranya mengenai upah pekerja yang setiap tahun bertambah tinggi, namun tidak diimbangi dengan peningkatan produktifitas dan keterampilan tenaga kerja. 

“Ini menjadi salah stu masalah yang sering dikeluhkan investor. Kondisi ini membuat laba perusahaan semakin tahun semakin kecil, karena beban biaya bertambah tapi produktifitas dan keterampilan pekerja tidak naik,” jelasnya. 

Selain itu pemerintah juga harus mampu menurunkan biaya logistik di Batam. Saat ini biaya pengiriman peti kemas 20 feet ke Singapura mencapai USD 470 dengan waktu tempuh pengiriman 3 jam. Sementara pengiriman barang dari Jakarta ke Singapura dengan ukuran yang sama, hanya membutuhkan biaya USD 250 dengan waktu tempuh mencapai 3 hari. Biaya logistik di Batam lebih mahal 88 persen.

Regulasi yang tidak singkron juga kerap membuat investor bingung. Salah satunya adalah regulasi megnenai pembatsan barang masuk yang berlaku di kawasan Pelabuhan Bebasa dan perdagangan Bebas Batam.

Investor masih harus mengurus persetujuan impor sejumlah bahan baku kepada Kementerian perdagangan. Sebelum Persetujuan Impor tersebut disetujui, investor terlebih dahulu harus mendapatkan rekomentasi dari kementerian terkait.

“Seperti Garam Industri. Harus dapat Rekomendasi Kemenperin, sebelum disetujui Kemendag,” jelasnya.

Regulasi ini dianggap aneh oleh sejumlah investor, karena tidak seharusnya praktek seperti itu ada di kawasan FTZ. Investor yang memiliki plant manufaktur di sejumlah kawasan FTZ lain di Asean menganggap aturan ini seharusnya tidak ada.

“Perusahaan mereka rata-rata punya plant yang sama di FTZ-FTZ lain. Investor membandingkan FTZ Batam dengan FTZ Tanjung Pelepas di Johor Bahru. Disana tak ada pembatasan. Dilain hal dia mau mengembangkan usaha, tapi birokrasi yang dihapi sangat rumit,” tuturnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here