BINTAN, SIJORITODAY.com– Bayu Wicaksono, Sekretaris Dinas Perumahan dan Pemukiman Kabupaten Bintan memberikan hak jawab dan klarifikasi terkait berita Sijoritoday.com, pada 4 Mei 2020 berjudul: “Menduga “praktik culas” Proyek Talud di Masjid Baitul Makmur Tanjunguban”.

Menurut Bayu Wicaksono yang kala itu sebagai PPK atas pembangunan penahan dinding di area Masjid Baitul Makmur Tanjunguban, mengatakan pekerjaan tersebut masih dalam masa pemeliharaan. Dan pembiayaan pekerjaan tersebut melalui kontrak kerja tahun 2019 sebenarnya masih kurang terhadap kebutuhan di lapangan, meski nominal kontraknya hampir mencapai Rp1,5 miliar.

Sehingga, lanjut dia, masih terdapat area permukaan di trap pertama diposisi yang ditimbun tanah itu tidak cukup anggaran untuk diaplikasikan geocell dan rumput, sehingga kian tergerus oleh limpasan hujan yang belakangan ini cukup tinggi intensitasnya terjadi hampir merata di Bintan. Dan ini menjadi program rencana kerja dan anggaran lanjutan berikutnya.

“Inti dari pekerjaan ini outputnya adalah dinding penahan tanah ini tidak membahayakan fasilitas di atasnya, yakni masjid itu sendiri,” ujar Bayu Wicaksono yang didampingi Fardinan selaku PPTK kala itu.

Bayu juga menyebutkan bahwa ini _telah_ menjadi tugas OPDnya untuk menangani, sesuai dengan tupoksinya. Sebab banyak usulan yang belum dapat direalisasikan atau dilaksanakan secara bertahap karena keterbatasan anggaran, sehingga skala prioritas menjadi keniscayaan.

“Paling tidak dari sisi output yang menjadi target awal adalah melindungi mengamankan aset kita yang diatas (area masjid.red), itu kan kita tangani. Walaupun kemarin itu tergerus akibat limpasan hujan, secara kontrak udah dilaksanakan 100%. Kondisi ini memang tidak bisa ideal, tanah tetap akan tergerus seperti itu sampai nanti usulan lanjutan terhadap penyempurnaan penangan penahan tanah tersebut dapat dianggarkan pada program kerja selanjutnya,” katanya.

Selain keterbatasan anggaran, Bayu juga mengakui adanya perubahan dalam kontrak atau lazim disebut Addendum.

“Judul proyek tetap, tapi di dalam penjabaran item pekerjaan/breakdown pekerjaan, pekerjaan tersebut terdiri dari geocell, geotextile, rumput, timbunan dan cutter & fill. Nah, yang berubah itu setelah kita lakukan pengukuran ulang di lapangan ada kebutuhan batu miring, sehingga kita tambahkan. Dananya diambil dari selisih dana kontrak dan pagu anggaran waktu tender,” ujar Bayu.

Sambung Bayu lagi, sebenarnya kalau anggaran sisa tender tersebut juga tidak mencukupi terhadap kebutuhan batu miring yang dialokasikan melalui addendum tersebut maka pembangunan batu miring ini akan diusulkan kembali penganggarannya melalui anggaran baru.

Oleh sebab itu, Bayu berharap agar pada APBD perubahan dapat dianggarkan.

“Kami coba dorong di APBD perubahan mudah-mudahan APBD perubahan itu tidak terkena dampak Covid-19,” imbuhnya.

Penulis: Taufik. K

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here