BATAM, SIJORITODAY.com – Himpunan Mahasiswa Kota Batam (HMKB) Tanjungpinang membagikan sembako batch 1 bagi pedagang di Batam Centre, Rabu (28/7/2021).

Pembagian sembako ini merupakan hasil dari penggalangan dana yang dilakukan HMKB untuk membantu pedagang yang terdampak penerapan PPKM darurat di Kota Batam.

Ketua Umum HMKB Adjie Hardyansyah mengatakan, kegiatan berbagi sembako menjadi langkah awal para mahasiswa untuk berpartisipasi membantu masyarakat di tengah pandemi COVID-19.

“tagar #darirakyauntukrakyat menjadi simbol himpunan mahasiswa Kota Batam dalam memberikan bantuan sembako batch 1 pada lokasi Batam Centre dan sekitarnya, dan insyallah ini langkah pertama dari mahasiswa Batam yang bergerak untuk membantu rakyat,” katanya.

Ia menuturkan, penerapan PPKM darurat berdampak langsung pada pendapatan pedagang hingga 50 persen akibat dipaksa tutup dan tidak beroperasional.

“Saya melihat bagaimana susahnya dan mungkin dalam kondisi PPKM seperti ini dagangan banyak yg dipaksa tutup oleh pemerintah bahkan mereka juga merasa selama pemberlakuan PPKM ini pendapatan mereka 50 persen dari biasanya,” tuturnya.

Mahasiswa yang kini menempuh pendidikan di UMRAH itu menilai, kedepannya pertumbuhan ekonomi di Batam akan sulit dan akan berimbas pada ketahanan ekonomi pedagang.

“Tak hanya bantuan sembako, kita juga selalu mengingatkan untuk taat prokes termasuk memberikan masker pada setiap pejual dan menjalin kedekatan secara humanis kepada setiap pedagang,” papar Adjie.

Adjie berharap kegiatan berbagi oleh HMKB di tengah pandemi dapat meringankan beban masyarakat khusunya para pedagang kecil.

“Semoga gerakan gerakan seperti ini tidak pernah putus untuk selalu menyambung kehidupan di kota batam, dan masyarakat juga sangat mengharapkan bantuan dari mahasiswa,” harapnya.

Sri salah satu pedagang yang menerima bantuan sembako HMKB mengaku pendapatannya menurun selama PPKM darurat yang membatasi aktivitas masyarakat.

Ia turut mengapresiasi program berbagi sembako yang dilakukan HMKB, ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan oleh organisasi kepemudaan lainnya.

“Kita harus tutup jam 10 malam bahkan jam 8 aja udah sepi, karena PPKM ini kan orang takut keluar rumah, rata rata go food, lah warung ibu nggak bisa go food,” keluhnya.

(Ravi)
Editor: Nuel

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here