Hidupkan Pariwisata Melalui Festival Batu Berdaun
LINGGA, SIJORITODAY.com – Bupati Lingga Muhammad Nizar ingin Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Sandiaga Uno datang ke Bunda Tanah Melayu. Menetapkan beberapa agenda menjadi kalender pariwisata.
“Jujur kami juga sempat berkecil hati, kehadiran Pak Menteri beberapa waktu lalu hanya di Pulau Penyengat harusnya juga berkunjung ke Bunda Tanah Melayu,” jelas dia di hadapan tamu dari kementerian yang hadir pada Festival Batu Berdaun Beach.
Di selenggarakan oleh RG Peduli Wilayah Kepri berkerjasama dengan pemerintah daerah, di Pantai Batu Berdaun, Dabosingkep, Minggu (27/2/2022).
Dia berharap staff ahli yang hadir bisa menyampaikan keinginannya, Sadiaga Uno ke sini.
Bila perlu di agendakan pada puncak peringatan HUT Kabupaten Lingga yang ke 19 pada Oktober mendatang.
Sekaligus ingin memantapkan Tamadun Melayu Antar Bangsa menjadi bagian pariwisata nasional. Sebagaimana yang pernah di sampaikan beberapa waktu lalu.
“Sampaikan salam takzim dari pemerintah Kabupaten Lingga kepada Pak Mentri, kami mengundang hadir pada kegiatan HUT Lingga ke 19. Memang telah kami kemas sebaik mungkin pariwisatanya dan UMKM-nya. Termasuk ingin memantapkan kegiatan Tamadun Melayu Antar Bangsa, dan pemakaian 1.000 tudung Manto, agar masuk rekor muri. Bahkan masuk pada kegiatan tahunan kementerian,” ucap dia.
Hadir pada kesempatan itu, Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi, Kemenparekraf, Ari Juliano Gema. Selain itu, Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Bumi Putra Nusantara Indonesia (Asprindo) Jose Rizal serta Sekretaris Jendral, Irwansyah yang hadir di Kabupaten Lingga pada
Muhammad Nizar berupaya membangun Kepariwisataan Bunda Tanah Melayu. Serta menjadikan Kabupaten Lingga sebagai tujuan wisata sejarah dan religi.
Rencana membangun pariwisata yang sedikit berbeda. Dinilainya hanya Lingga yang punya potensi tersebut.
Dia berharap, agenda kegiatan pariwisata Tamadun Melayu antar Bangsa yang pernah di gelar Pemkab Lingga pada 2017 dan Festival Batu Berdaun Beach mendapat perhatian dari Kemenparekraf. Bila memungkinkan masuk pada kalender pariwisata nasional.
“Kalau untuk kegiatan-kegiatan sangat sering dilakukan di sini (Batu Berdaun). Namun untuk festival baru pertama kali. Mudah-mudahan dari sini bisa menjadi masukan dan menjadi salah satu perhatian Kemenparekraf untuk masuk dalam kalender pariwisata,” kata dia.
Pemerintah daerah justru saat ini sangat serius dalam upaya membangun pariwisata di Kabupaten Lingga.
Bahkan terus mendorong adanya terobosan-terobosan terkait pariwisata. Seperti kegiatan yang terlaksana di Batu Berdaun atas bentuk kepedulian dari pemuda-pemuda.
Mulai dari RG Peduli Kepri dan pemuda secara umumnya, serta pemerintahan dan masyarakat dalam usaha mengeliatkan pariwisata di Kabupaten Lingga.
Visi kedepan, Kabupaten Lingga harus menjadi daerah pariwisata yang populer. Salah satunya menegakkan wisata sejarah, budaya dan religi sebagai tapak sejarah melayu.
Sebagaimana catatan sejarah membuktikan, akar kebudayaan Melayu bermula disini. Bahkan telah di akui oleh 6 negera serumpun sebagai Bunda Tanah Melayu tahun 1990-an.
Sejak 1787, Kesultanan Lingga – Riau bertamadun di Daik, sebagai pusat pemerintahan selama 113 tahun. Baru pada tahun 1900 berpindah ke Pulau Penyengat dan akhirnya di hapus oleh Belanda pada 1913.
“Usaha kami dalam pengembangan wisata yang tidak ada di kabupaten lain di Kepri. Kalau pantai pengembangan wisata bahari, mungkin sudah ketinggalan selangkah. Ada wisata sejarah dan religi yang begitu sarat, dari peninggalan Kesultanan Riau Lingga selama 113 tahun. Pusat pemerintahannya berada di Lingga dan itu wisata yang tidak ada di kabupaten lain di Kepri,” papar dia.
Lingga menurutnya merupakan negeri para sultan, selain Daik sebagai Bunda Tanah Melayu. Ada beberapa makam Sultan yang bersemayam di Pulau Lingga termasuk pahlawan Nasional Sultan Mahmud Riwayat Syah III.
Namanya kini dipakai pemerintah Kota Batam, sebagai nama salah satu masjid agung di sana.
Hal tersebut disambut positif, Ari Juliano Gema, yang mengapresiasi terselenggaranya Festival Batu Berdaun dengan lancar dan baik.
Dia mengatakan festival atau tamadun bisa dilakukan secara terus menerus. Menjadi program tahunan daerah.
“Mudah-mudahan, Pak Mentri dilain kesempatan bisa hadir di sini. Namun saya kagum atas kerjasama RG Peduli Kepri, dan pemerintah daerah. Kegiatan berjalan baik. Banyaknya potensi pariwisata, supaya bisa dikemas dan dilakukan dengan kolaborasi dan ekonomi kreatif, agar tetap terus terlaksana,” kata dia.
Ketua Umum DPP Asprindo Jose Rizal memperkuat keinginan Bupati Lingga. Dengan visi menjadikan pribumi tuan di negeri sendiri.
Pihaknya mendukung penuh penggelaran festival Batu Berdaun Beach dengan tagline Mewujudkan Desa Wisata Indonesia Maju dan Mendunia itu.
Keterkaitannya hadir pada festival ini, mengangkat kembali kejayaan kesultanan kerajaan Melayu Lingga-Riau. Melalui warisan seni budaya, kearifan lokal, pariwisata dan sejarah serta kuliner khas yang perlu di kembangkan.
“Melayu adalah pribumi. Sebagai organisasi pengusaha pribumi, Asprindo selalu menaruh perhatian atas segala hal yang terkait dalam upaya mengangkat harkat dan martabat kaum pribumi,” papar dia.
Selain itu Asprindo, kata dia merupakan partner yang di pilih oleh Kemenparekraf dalam strategi memajukan pariwisata di Indonesia.
“Tentu saja kita berharap pariwisata di perbatasan terus di geliatkan, itu penting. Apalagi Lingga dekat dengan Singapura dan Malaysia,” kata dia.
Untuk diketahui, Bupati Lingga hadir melepaskan peserta Run Dabo 7 dan 10 Km. Serta turut menyemarakkan Fun Bike bersama keluarga dengan rute dari Lapangan Merdeka, Dabosingkep finis di pantai Batu Berdaun.
Disela-sela kegiatan, Nizar juga menyerahkan piagam penghargaan kepada kepala sekolah dan guru yang telah berhasil menyelesaikan penulisan buku pada program Satu Guru Satu Buku (SaguSabu). (Rudi)
Editor : Liza










































