BATAM,SIJORITODAY.com – Anggota DPRD Kepulauan Riau, Wahyu Wahyudin geleng-geleng kepala melihat indeks pelatihan dan kompetensi kerja Kepri yang berada di peringkat 32 dari 34 Provinsi.
Wahyu mengaku miris karena hasil survey BPS ini menunjukkan bahwa kualitas tenaga kerja di Kepri sangat rendah.
“Sangat tidak memuaskan, malu saya dengan hasil survey itu. Semoga survey itu margin erornya tinggi,” katanya, Jum’at (25/3/2022) pagi.
Menurut Anggota Fraksi PKS itu, rendahnya indeks pelatihan dan kompetensi kerja disebabkan minimnya sarana dan prasarana pelatihan kerja.
Apalagi, Disnaker Provinsi dan Kabupaten/Kota jarang mengadakan kegiatan pelatihan peningkatan kualitas tenaga kerja.
“Minim Balai Latihan Kerja (BLK) dan sarana praktek kerja,” ujarnya.
Selain indeks pelatihan dan kompetensi yang rendah, indeks perencanaan kerja yang bertengger di peringkat 25 dan indeks hubungan industrial di peringkat 30 turut menjadi perhatian Anggota Komisi IV ini.
Wahyu meminta agar permasalahan ketenagakerjaan ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Disnaker Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Disnaker harus membangun fasilitas BLK secara merata dan melaksanakan pelatihan sesuai kebutuhan daerah secara rutin.
Lebih dari itu, Disnaker perlu berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk memperkuat sekolah kejuruan demi menciptakan tenaga kerja terampil.
Sekolah kejuruan harus merata dan disesuaikan dengan kebutuhan daerah.
Fasilitas memadai dan modern pun harus disiapkan untuk menunjang praktek kerja siswa. Pengadaan fasilitas dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan pelaku industri tempatan.
“Pengadaan BLK tentu penting sekali, dan penguatan sekolah kejuruan di bidang sarana dan prasarana sangat menentukan juga,” tambahnya.
(Bora)
Editor: Nuel












































