Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang.

TANJUNGPINANG,SIJORITODAY.com – Pulau Penyengat menjadi saksi kasih antara Sultan Mahmud Riayat Syah dengan istrinya Engku Putri binti Raja Haji Syahid Fisabilillah.

Pulau dengan panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter ini merupakan mahar atau mas kawin yang diberikan Sultan Mahmud Riayat Syah kepada Engku Putri.

Penyengat pun menjadi kediaman bagi Engku Putri Raja Hamidah dan zuriat atau keturunan Raja Haji Fisabilillah.

Semasa hidupnya, Engku Putri merupakan pemagang regalia atau kebesaran Kerajaan Riau-Lingga.

Ia pun mangkat dan dimakamkan di Pulau Penyengat pada tahun 1844.

Makamnya terletak pada sebuah kompleks pemakaman diraja yang disebut Dalam Besar.

Tepat di depan pintu masuk makam, terdapat papan yang bertuliskan Komplek Makam Raja Hamidah (Engku Puteri) Permaisuri Sultan Mahmud Shah III Riau-Lingga.

Tak hanya Engku Putri, komplek makam tersebut juga merupakan tempat peristirahatan terakhir Raja Ahmad (Penasihat Kerajaan), Raja Ali Haji (Pujangga Kerajaan), Raja Abdullah Yom Riau Lingga IX, dan Raja Aisyah (Permaisuri).

Suami dari Engku Puteri, Sultan Mahmud Riayat Syah sendiri merupakan salah satu dari empat tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Tahun 2017 oleh Presiden Joko Widodo.

Pulau Penyengat memang sarat akan peninggalan sejarah, selain makam diraja, terdapat juga Masjid Raya Sultan Riau.

Masjid ini merupakan salah satu masjid unik karena salah satu campuran bahan bangunan yang digunakan adalah putih telur.

Arsitektur masjid sarat dengan simbol-simbol ajaran agama Islam. Diantaranya 13 tangga masjid yang menggambarkan 13 rukun shalat, 5 buah pintu yang melambangkan rukun Islam, dan 6 buah jendela yang menggambarkan rukun iman.

Pada atap bangunan masjid ini terdapat 13 buah kubah dan 4 buah menara yang jika dijumlahkan menjadi 17 yang melambangkan jumlah rakaat shalat sehari semalam dalam Islam.

Di dalam mesjid ini terdapat dua buah almari yang dulunya merupakan Lemari Perpustakaan Khutub Khana Marhum Ahmadi.

Lemari ini masih menyimpan buku-buku yang melambangkan kepedulian yang tinggi tentang ilmu pengetahuan.

Selain itu, di dalam masjid ini juga terdapat Al-Quran bertuliskan tangan yang ditulis oleh Abdurrahman Stambul pada tahun 1867.

Abdurrahman Stambul adalah seorang pemuda Pulau penyengat yang disekolahkan oleh Kerajaan untuk mempelajari agama Islam di Istanbul-Turki.

Selain itu, di pulau yang bisa ditempuh 15 menit dari Tanjungpinang ini juga bisa ditemui peninggalan sejarah lainnya seperti komplek istana kantor, benteng pertahanan di Bukit Kursi, dan Balai Adat Melayu.

Di Balai Adat Melayu, pengunjung dapat berfoto dengan mengenakan baju adat Melayu yang sudah disediakan.

“Balai Adat dijadikan pusat aktifitas budaya secara rutin seperti menampilkan tari zapin, penyewaan baju adat untuk pengunjung yang datang. Pengunjung juga bisa menikmati kuliner khas Melayu seperti pasar warisan,” kata Plt Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Raja Heri Mokhrizal, SH. MH.

Heri menuturkan, saat ini, pemerintah sudah mulai membenahi Pulau Penyengat untuk menarik minat wisatawan untuk berkunjung.

Fasilitas yang tersedia sudah sangat lengkap ada homestay, lampu jalan, toilet dan jalan yang sudah bagus.

Ke depannya, pemerintah akan fokus memperbaiki fasilitas pelabuhan menuju Pulau Penyengat.

Heri optimis, fasilitas yang layak akan membuat pengunjung nyaman dan meningkatkan minat berkunjung ke Pulau Penyengat.

“Saat ini fasilitas pelabuhan menuju ke Pulau Penyengat kurang layak, diharapkan perbaikan untuk membuat para pengunjung menjadi nyaman,” tambahnya.

Penulis: Nuel

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here