
TANJUNGPINANG,SIJORITODAY.com – Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kepulauan Riau, Diky Wijaya menyampaikan, renovasi Balai Latihan Kerja dan Pengembangan Produktivitas (BLKPP) sudah mencapai 90 persen.
Proyek peningkatan fasilitas ini dibiayai melalui APBD 2025 dan telah mencapai progres 90 persen.
Renovasi tersebut menjadi pembaruan terbesar sejak bangunan workshop pengelasan didirikan pada 1985 dan terakhir direvitalisasi pada tahun 2000.
Diky menuturkan, Disnakertrans Kepri juga akan meluncurkan program pelatihan seperti menjahit, pembuatan roti dan kue, dua paket mesin diesel untuk operator PLTD skala kecil, serta menjahit sederhana yang secara khusus diperuntukkan bagi anggota binaan KKBS, termasuk penyandang disabilitas.
Langkah ini menjadi wujud nyata komitmen Pemprov Kepri terhadap prinsip inklusivitas dan pemerataan kesempatan kerja bagi seluruh lapisan masyarakat.
Diki menegaskan pentingnya transformasi BLKPP menjadi lembaga pelatihan yang adaptif terhadap dinamika pasar kerja dan mampu mencetak tenaga kerja dengan kompetensi unggul, baik dari sisi hard skill maupun soft skill.
“Pelatihan berbasis kompetensi harus relevan dengan kebutuhan industri. BLKPP Kepri kami arahkan menjadi Transformative Training Center yang melahirkan tenaga kerja terampil, tangguh, dan produktif, serta membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat rentan dan penyandang disabilitas untuk ikut berdaya,” ujarnya, Selasa (21/10/2025).
Kadis ESDM Kepri, M. Darwin menyampaikan bahwa peningkatan sarana pelatihan ini selaras dengan kebutuhan tenaga kerja sektor energi dan manufaktur di Kepulauan Riau.
“Kepri sedang tumbuh pesat di bidang industri, energi, dan ekonomi digital. Maka, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor kunci. Kami mendukung langkah Disnakertrans memperkuat BLKPP sebagai pusat pelatihan modern berstandar industri,” tutur Darwin.
Peningkatan fasilitas BLKPP juga menjadi jawaban atas pemberitaan sebelumnya yang menggambarkan kondisi gedung pelatihan dalam keadaan memprihatinkan.
Faktanya, Pemprov Kepri tidak hanya menanggapi kritik, tetapi telah bertindak cepat dan strategis: memperbarui infrastruktur inti, memperluas akses pelatihan bagi kelompok marginal, serta memperkuat kemitraan dunia usaha untuk penyerapan kerja.
Dengan kombinasi antara pelatihan berbasis kompetensi, sertifikasi nasional, dan fasilitas yang semakin representatif, BLKPP Kepri kini siap menjadi pusat unggulan pengembangan produktivitas tenaga kerja di wilayah perbatasan Indonesia–Singapura, sekaligus motor penggerak peningkatan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat. ***
Editor: Nuel





































