Untung (Pelapor)

TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.com – – Laporan dugaan tindak pidana pencurian mobil Hilux tahun 2013 nomor polisi BP 8055 AP yang dilaporkan Untung ke Polres Tanjungpinang pada 21 Juni 2018 lalu membuahkan hasil, Senin (22/10/2018) kemarin.

Hasilnya, yaitu terbitnya Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) oleh Polres Tanjungpinang dengan alasan bukan tindak pidana dan tidak cukup bukti.

Hal itu mendapat tanggapan dari pelapor bernama Untung. Terlebih dahulu Untung berharap kepada Penyidik Polres Tanjungpinang agar lebih profesional dalam menjalankan tugas negara.

“Saya belum tau apa alasan yang dikatakan Kapolres terkait laporan saya bukan suatu tindak pidana, SP3 pun belum saya terima dari Polres,” kata Untung ditemui sejumlah wartawan di Tanjungpinang.

Untung juga meminta Agus Salim agar tidak lagi berbicara bisnis. Sebab, dalam konteks laporannya itu adalah dugaan pencurian yang dialaminya.

Dia pun mempertanyakan apa bukti kepemilikan dari sebuah mobil. Apalagi, dia memiliki sebuah showroom mobil yang kerap sekali melakukan jual beli.

Surat jual beli antara Untung dan Agus yang ada pada Untung.

“Tentukan BPKB, siapa yang pegang ?, Nah saya yang pegang. Kedua surat jual beli mobil itu ada sampai kwitansinya, saya beli sama Agus Salim senilai 245juta menggunakan materai, lalu bukti kepemilikan Agus Salim itu hanya cakap saja ?,” katanya.

Kwitansi pembelian Mobil antara Untung dan Agus yang ada pada Untung.

Untuk saat ini, Untung masih menunggu isi dari SP3 tersebut kemudian ingin mengetahui apa alasan polisi hingga menyebut bukan tindak pidana.

“Saya tunggu SP3 itu, pengacara saya masih di Solo, belum tahu langkah apa yang akan kami tempuh nantinya,” ujar Untung.

Ditempat terpisah, Agus Salim mengaku juga memiliki surat jual beli mobil Hilux itu saat dia membeli kepada pihak pertama.

Agus bercerita, awalnya Untung menawarkan pinjaman uang kepadanya. Saat itu, Kebetulan dirinya ada keperluan uang untuk biaya akomodasi bisnisnya hingga ke Jakarta bersama rekan kerjanya bernama Toni, sehingga Agus pun menerima tawaran dari Untung.

Namun, Untung mengirimkan pinjaman uang tersebut ke rekening Adik Iparnya bernama Sugiyono untuk diserahkan ke Agus Salim sebanyak dua kali transfer. Pertama, Untung mengirimkan 55 Juta dan kedua Untung kembali mengirimkan 70juta. Duit itu pun sudah diserahkan Sugiyono ke Agus Salim.

Agus membeberkan, beberapa hari kemudian Untung membawa kertas kosong dan kwitansi kosong beserta materai dihadapannya tanpa ada Sugiyono. Untung meminta dirinya untuk menandatangani kertas dan kwitansi kosong itu diatas materai.

“Karena saya percaya, dan dia pun kawan kecil saya, saya tanda tangan lah, kebetulan saya ada hutang sama dia, dan dia juga rekan bisnis saya,” ujar Agus.

Saat keberadaan Agus di Jakarta, Untari (Istri Untung) meminta kepada Sugiyono untuk menyerahkan BPKB mobil Hilux itu. Sugioyo sempat tidak mengabulkan permintaan kakaknya. Tapi akhirnya luluh, setelah mamaknya menyuruh Sugiyono agar BPKB tersebut diserahkan ke Untari.

“Saya tidak kasih, tapi Untari ini mengadu ke mamak kami, akhirnya mamak kami menyuruh saya untuk memberikan BPKB itu ke Untari, akhirnya saya kasih dengan catatan jangan digadaikan BPKB itu,” kata Sugiyono.

Mendengar hal itu, Agus pun bergegas membayar hutangnya ke Untung yang dipinjam melalui Sugiyono sebesar 130juta agar mendapatkan BPKB yang dipegang Untari dan mobil Hiluxnya dipegang Untung.

“Saya serahkan duit itu ke Sugiyono 130juta untuk diserahkan ke Untung menggunakan Kwitansi bermaterai, tapi setelah Sugiyono membayarkan utang saya ke Untung, malah Untung belum memberikan mobil dan BPKB itu ke Sugiyono untuk diserahkan ke saya, Sugiyono dijanjikan besok ke besok saja sama dia,” bebernya.

Merasa dipermainkan oleh Untung bahkan komunikasi dengan Untung tidak ada titik terang pengembalian mobil beserta BPKB nya. Agus kemudian menyuruh seseorang untuk mengambil mobil tersebut didepan pagar rumah Untung, tindakan itu dilakukan karena Agus merasa komunikasinya dengan Untung dianggap tidak ada niat pengembalian mobil dan BPKB.

“Sebelum saya suruh orang ambil itu mobil, kami sebelumnya komunikasi, baik-baik saya minta mobil saya, saya sudah bayar utang saya loh ke dia melalui adik iparnya Sugiyono, karena saya dapatkan duit dia itu dari Adik Iparnya , tapi dia berkelit banyak alasan dan selalu bahas permasalahan dia dengan Sugiyono, saya bilang urusan Sugiyono bukan urusan saya karena itu keluarga kalian, sekarang saya mau ambil mobil saya,” kata Agus.

Hanya saja, apa yang disampaikan Agus dan Sugiyono tidak dibenarkan oleh pelapor Untung.

“Maaf bahasa Agus dan Sugiyono tidak benar,” kata Untung.

Karena tidak terima mobil Hilux diambil tanpa izin, Untung melaporkan dugaan pencurian mobil miliknya itu ke Polres Tanjungpinang, bahkan Sugiyono yang tidak terima perbuatan itu juga ikut melaporkan Untung atas dugaan penggelapan mobil.

Pelaporan itu telah dilakukan sidik hingga ditingkatkan ke penyidikan oleh Satreskrim Polres Tanjungpinang, para saksi pun sudah dilakukan pemeriksaan hingga gelar perkara di Polda Kepri yang turut dihadiri pelapor dan terlapor.

Kapolres Tanjungpinang, AKBP Ucok Lasdin Silalahi memaparkan, bahwa SP3 tersebut merupakan hasil sidik. Namun, apapun yang menjadi prosesnya, Kasatreskrim AKP Dwi Hatmoko Wiroseno sudah berusaha semaksimal mungkin.

”Ia itu hasil sidik tapi apapun prosesnya Kasat Reskrim sudah berusaha maksimal,” kata Ucok.

Terkait dengan SP3 yang belum diterima pelapor, Kapolres mengatakan, selama ini komunikasi antara Kasat Reskrim dengan pelapor cukup inten. Nanti, akan ada pemanggilan pelapor dalam hal SP3 tersebut.

“Nanti akan ada komunikasi antara kasat dan palapor mengenai SP3 ini, bahkan mengenai bukti-bukti dari pelapor juga,” ujarnya.

~Akok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here