BATAM, SIJORITODAY.com– – BP Batam merancang persiapan untuk pengembangan 3 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batam. Ketiganya berada di adalah KEK Aero Marine City Hang Nadim, KEK Water City dan KEK Rempang City.

“Design dan tata ruangnya harus disiapkan sejak dini. Walaupun realisasinya akan membutuhkan waktu lama,” ujar Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo.

Penerapan KEK di Batam sempat mendapat resistensi pengusaha. Pasalnya, Batam telah mendapat fasilitas FTZ selama 70 tahun. Selain itu, banyak industri di Batam yang sudah bercampur dengan pemukiman dan area bisnis. Sehingga clusterisasi KEK di Batam semakkin sulit.

BP Batam menyampaikan kendala-kendala tersebut kepada Ketua Dewan Kawasan Darmin Nasution. Dalam arahannya Darmin meminta BP Batam mulai merancang KEK di kawasan-kawasan yang sepenuhnya berada dalam kendali BP Batam. 

BP Batam sendiri akan berperan sebagai pengusul ketiga KEK tersebut. KEK Aero Marine City Hang NAdim –  Kabil seluas 2 ribu hektar menjadi yang pertama diusulkan BP Batam kepada Menko Perekonomian. Rencananya kawasn tersebut akan dikembangkan menjadi pusat e-commerce, logistik, MRO Pesawat, Exhibiton dan sebagainya.

 “Sudah disetujui oleh Menko Perekonomian. Untuk Bandara Hang Nadim prosesya sudah mulai proses penjajakan mulai dari bulan Oktober kemaren. Kita batasi dulu di posisi di Bandara Hang Nadim,” jelasnya.

Pengembangan KEK ini akan dibagi menjadi dua tahapan. Tahap pertama akan dimulai tahun ini, terdiri dari relokasi terminal kargo, pembangunan terminal 2 dan renovasi terminal satu. Pembangunan tahap pertama ini diharapkan selesai maksimal 1,5 tahun dan menelan anggaran Rp 3,9 triliun.

Sementara pembangunan kota logistik secara keseluruhan bisa memakan waktu 3 hingga 4 tahun kedepan. Besaran investasi yang dibutuhkan hingga tahap ini mencapai USD 3,5 miliar. Pembangunannya akan dilakukan menggunakan skema KPBU dengan model Build Transfer and Operate.

KEK Aero Mareine City juga akan mengkoneksikan Bandara Hang Nadim dengan Pelabuhan Kabil. Konsep ini terbilang unik, karena tak banyak pelabuhan dan bandara di Dunia yang terkoneksi secara langsung.

Konektifitas Bandara Hang Nadim dan pelabuhan Kabil dimaksudkan untuk menunjang aktifitas industri Maintenance Repair and Overhaul (MRO) terbesar di Dunia yang akan dibangun di bandara Hang Nadim. 

Pengiriman mesin pesawat melalui laut akan dibongkar ke Pelabuhan Kabil, kemudian ditransfer ke Bandara hanya dalam waktu 10 menit. Dengan konsep ini, pusat perawatan pesawat di Hang Nadim akan sangat efisien.

“Kalau dibandingkan dengan pusat perawatan dengan negara lain, Batam akan jauh leibih unggul. Karena di tempat lain pelabuhan dan bandaranya tidak terkoneksi,” ujar Deputi Bidang Perencanaan dan pengembangan BP Batam Yusmar Angganinata.

KEK Berikutnya yang tengah dirancang BP Batam adalah KEK Water City yang akan dikembangkan menjadi Cendral Bussiness Districk (CBD) dan Offshore Banking. KEK ini akan dibangun di atas lahan reklamasi seluas 800 hektar. 

Total investasi KEK Water Citu mencapai USD 15,5 Miliar. Jika KEK Water City Batam Centre terealisasi, maka Batam akan memiliki Offshore Banking pertama di Indonesia, dan dipercaya mampu menyerap dana-dana asing masuk ke dalam negeri.

Gurur Besar Universitas Indonesia Prof Dorodjatun Kuntjoro Jakti sempat menyinggung pentingnya keberadaan Offshore Banking di Batam. Dalam sebuah seminar yang diadakan di Batam Dorojatun mengatakan, Batam harus mulai memasuki bidang financial untuk memperkuat produksi industri. 

Di era globalisasi seperti saat ini, Batam harus memberikan perhatian khusus kepada sektor financial untuk mendukung pertumbuhan investasi. Currency market dunia bisa mencapai USD 5 – 6 triliun dollar dalam sehari. Potensi tersebut harus dimanfaatkan oleh Batam agar sebagian dana tersebut hinggap di Indonesia.

“Untuk hinggap tersebut harus mengundang dengan memberikan insentif. Jika tidak, dana tersebut tak akan masuk ke Indonesia,” ujarnya.

Mengembangkan Offshore Banking menjadi salah satu cara membawa dana tersebut masuk ke Indonesia. Upaya ini sekaligus akan memancing investor-investor besar untuk masuk. Apalagi jika daerah tersebut dijadikan daerah suaka pajak. 

Sebut saja seperti Apple, Google, Coca Cola, Starbuck dan Amazon, yang mendirikan markas besarnya di daerah suaka pajak. Beberapa keuntungan yang didapat perusahaan raksasa tersebut adalah terkait insentif yang diberikan, dan jua pemanfaatan sumber keuangan global yang aman.

KEK Rempang City menjadi KEK ketiga yang tengah dipersiapkan. KEK di atas lahan seluas sleuas 7.560 Hektar. Total investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan KEK Rempang City diperkirakan mencapai USD 17,5 miliar. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here