LINGGA, SIJORITODAY.com — Pemkab Lingga melalui Dinas Kebudayaan kembali menggelar tradisi mandi safar, di Balai Adat Melayu Kabupaten Lingga, Rabu (23/10).

Mandi safar tahun 2018 sudah ditetapkan
Sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia dari Kabupaten Lingga.

Kadisbud Lingga, M Ishak menyebut, sejumlah turis dari Singapura dan Malaysia hadir dalam event tahunan Disbud Lingga ini.

Kata Ishak, acara di Balai Adat hanya sebagai kegiatan pembuka, selanjutnya masyarakat melaksanakannya di berbagai tempat wisata.

“Di Balai Adat, acara pembukanya secara sakral oleh Pemerintah Kabupaten Lingga. Setelah itu terpulang ke masyarakat, apakah ingin mendatangi Pemandian Lubuk Papan, Air Terjun Resun, Pantai Mempanak, Pantai Pasir Panjang serta beberapa tempat pemandian wisata lainnya,” kata Ishak.

Dia menambahkan, masyarakat bisa memilih dimana mereka ingin pergi mandi safar pada hari tersebut. Ada yang mandi di rumah saja sesuai dengan panduan doa yang sudah ada untuk bermunajat pada Allah SWT yang memang sudah ada sejak Kesultanan Lingga dulu.

“Tradisi Mandi Safar sudah kita kemas, yang di awali dengan pawai budaya berkendaraan yang akan diikuti anak-anak yang akan dimandikan sebagai simbolis,”ujarnya.

Pelepasan pawai dari Masjid Jamik Sultan Lingga mengelilingi Kota Daik dan menuju Perkampungan Damnah di Jalan Muhammad Yusuf Daik Lingga.
Tiba di pintu masuk gerbang Perkampungan Damnah, dilanjutkan lagi pawai budaya dengan berjalan kaki menuju Balai Adat Melayu.

“Pembukaan Tradisi Mandi Syafar tahun ini, selain  dihadiri para jemputan dan masyarakat Kabupaten Lingga, juga dihadiri para tetamu dari luar daerah dan luar negeri,” imbuhnya.

Kegiatan mandi safar dapat dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata budaya Kabupaten Lingga dan perlu dipromosikan.

(Mn)
Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here