TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.com – Maraknya peredaran rokok non cukai di Kota Tanjungpinang mendapat sorotan dari Jaringan Pengawas Kebijakan Pemerintah (JPKP) Kota Tanjungpinang.

Melalui Divisi Hukum dan HAM JPKP Tanjungpinang, Suherman, SH mengatakan, maraknya peredaran rokok non cukai itu perlu dipertanyakan kepada Bea dan Cukai Kota Tanjungpinang. Seperti, H Mind dan REXO Bold yang tidak terdaftar mereknya di BP Tanjungpinang.

“Dalam hal ini masyarakat perlu mencurigai kinerja dari Bea dan cukai Kepri / Tanjungpinang, kenapa barang seperti rokok non cukai bisa masuk secara ilegal di Tanjungpinang?,” tanyanya, Selasa (9/3).

Menurutnya, jangan hanya Bea Cukai saja mencurigai kegiatan dari masyarakat.

“Masyarakat perlu curiga kepada pengelola negara dalam bidang bea dan cukai dalam kinerjanya, jangan Bea dan Cukai aja yang selalu curiga kegiatan dari masyarakat. Tentu apabila ada oknum- oknum yang bermain dalam bidang ini ada sanksi pidana yang menunggu mulai dari UU kepeabenan sampai bisa jadi UU korupsi apabila ada indikasi penyuapan didalamnya,” ujarnya.

Menurut Suherman, peredaran rokok non cukai dapat berbahaya bagi kesehatan tubuh si konsumen, karena tidak mengetahui kandungan yang terdapat di dalam rokok non cukai tersebut.

“Masyarakat umum di khawatirkan, karna tujuan dicukaikannya rokok itu kan untuk mengendalikan produk-produk yang dianggap berbahaya dan tidak sehat. Nah kalau yang tidak ada cukai beredar luas, sungguh itu sangat berbahaya bagi masyarakat, karna kita tidak mengetahui kandungan apa saja yg terkandung dalam rokok itu apakah aman ataukah tidak untuk di pakai. karna pembuatan atau peredarannya tidak melibatkan atau diawasi pemerintah,” tuturnya.

Selain itu, peredaran rokok non cukai juga dapat merugikan negara karena tidak menerima pajak dari rokok yang diedarkan.

“Peredaran rokok non cukai masuk secara ilegal tentunya negara sangat dirugikan dari segi pendapatan. Yang seharusnya negara menerima pendapatan dari rokok tersebut dan dari pendapatan tersebut digunakan untuk pembiayaan pembangunan namun kenyataannya tidak menerima demikian,” ucapnya.

Sebelumnya, Humas Bea Cukai Kota Tanjungpinang, Oka Ahmad Setiawan mengaku Bea Cukai tidak pernah bosan melakukan penindakan terhadap pelanggar aturan yang menjual rokok non cukai atau ilegal itu.

Bea Cukai Tanjungpinang telah melaksanakan upaya preventif dan telah melakukan sosialisasi di radio, banner, sticker dan sosialisasi di kampus serta sekolah-sekolah. Namun, jika masih ditemukan rokok non cukai diluar kawasan FTZ di Tanjungpinang pihaknya akan melakukan penindakan.

“Alasan mereka biasanya untuk menyambung hidup/mata pencarian, biasanya terhadap mereka kami lakukan dulu himbauan kalau tetap tidak mau ikut aturan ya kami lakukan penindakan,” ujarnya.

Menurut Oka, penjual rokok ilegal di sebagian wilayah Kota Tanjungpinang biasanya ada permintaan dari para perokok. Ia berani menjual karena ada permintaan. Ia pun menghimbau masyarakat untuk stop mengkonsumsi rokok ilegal karena dapat merugikan keuangan negara.

“Sebagaimana hukum ekonomi, di mana ada permintaan di situ ada penawaran,” ujarnya.

Oka menduga ada distributor bermain rokok ilegal hingga dapat beredar di warung-warung kecil diluar kawasan FTZ Kota Tanjungpinang.

“Kami pernah merekomendasikan pemblokiran terhadap distributor dimaksud dan sudah diblokir segala bentuk pelayanan cukainya,” ungkapnya.

Diketahui, beberapa hari yang lalu, Bea Cukai Tanjungpinang telah memusnahkan 3 juta batang rokok ilegal hasil penindakan pada tahun 2020. Jika dihitung dari pemusnahan tersebut, negara berpotensi merugi 2,1 Miliar Rupiah.

Sedangkan sejak Januari 2021 hingga sekarang, Bea Cukai Tanjungpinang telah melakukan lebih dari 10 kali penindakan terhadap rokok non cukai di Tanjungpinang.

(Nuel)

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here