Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Wahyu Wahyudin saat menghadiri lokakarya akademik yang digelar Fraksi PKS MPR RI dan DPW PKS Kepri di Hotel Aston Batam, Sabtu (13/6/2026). F:Sijoritoday.com/Humas DPRD Kepri

BATAM,SIJORITODAY.com – Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Wahyu Wahyudin mengusulkan percepatan peningkatan ekonomi nelayan di Kabupaten Karimun.

Usulan itu ia sampaikan dalam lokakarya akademik yang digelar Fraksi PKS MPR RI dan DPW PKS Kepri di Hotel Aston Batam, Sabtu (13/6/2026).

Dalam forum tersebut, Wahyu menyampaikan usulan taktis untuk mendongkrak ekonomi masyarakat, khususnya nelayan.

Kabupaten Karimun memiliki posisi yang sangat strategis karena berada tepat di jalur pelayaran internasional Selat Malaka serta berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia.

“Potensi maritimnya luar biasa. Saat ini saja, masyarakat Karimun sudah memiliki sedikitnya 200 unit kapal nelayan dengan kapasitas di atas 30 GT,” katanya dilansir dari Hariankepri.

Politisi PKS ini menghitung, potensi tangkapan dari 200 kapal besar itu sangat fantastis. Jika per trip menghasilkan 50 ton ikan, maka dalam 4 trip setahun totalnya mencapai 40.000 ton.

“Itu baru dari kapal besar. Jika ditambah sumbangsih ribuan nelayan kecil dengan kapal ukuran 2 hingga 29 GT, potensinya bertambah lagi sekitar 10.000 ton. Totalnya bisa tembus 50.000 ton per tahun,” bebernya.

Melihat angka tersebut, Wahyudin mengusulkan agar investasi maritim di Karimun difokuskan pada sektor yang realistis dan berdampak cepat dalam waktu 1 hingga 2 tahun ke depan.

Dari 6 opsi strategis yang sempat dipaparkannya, Wahyudin mengerucutkan menjadi 3 program investasi cepat yang dampaknya bisa langsung dirasakan oleh kantong masyarakat Karimun.

Investasi pertama yang mendesak adalah pembangunan Sentra Perikanan Terpadu yang dilengkapi fasilitas cold storage (gudang beku), pabrik es, dan tempat pelelangan ikan modern.

“Fasilitas ini krusial agar harga ikan hasil tangkapan nelayan lokal tetap stabil dan menekan angka kerugian pasca-panen,” jelasnya.

Investasi kedua adalah penguatan sektor Budidaya Laut (mariculture) untuk komoditas bernilai jual tinggi seperti ikan kerapu, kakap, lobster, hingga rumput laut yang masa panennya cepat, yakni 6-18 bulan.

“Modal budidaya ini relatif lebih kecil daripada membangun pelabuhan besar, tapi cepat menyerap tenaga kerja pesisir dan punya potensi ekspor tinggi langsung ke Singapura,” tambahnya.

Sementara fokus ketiga yang diusulkan adalah pengembangan Wisata Bahari berbasis masyarakat dengan memanfaatkan keindahan pantai, pulau kecil, dan aktivitas memancing untuk menghidupkan UMKM kuliner serta homestay.

Wahyudin menekankan, kombinasi industri perikanan modern, budidaya laut, serta logistik hasil laut ekspor ini tidak membutuhkan investasi raksasa layaknya pelabuhan peti kemas.

“Ketiga sektor ini jauh lebih efektif karena cepat menciptakan lapangan kerja baru, melibatkan nelayan lokal, dan mampu mendongkrak pendapatan masyarakat dalam waktu singkat,” pungkasnya. ***

Editor: Nuel

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here