TANJUNGPINANG, SIJORITODAY. com — Di Tanjungpinang, kuliner lemang  menjadi salah satu makanan favorit yang diburu masyarakat setempat untuk menu berbuka puasa.

Saat Ramadhan seperti ini, makanan berbahan campuran beras ketan dan santan inipun bisa ditemui dengan mudah, terutama di pinggir-pinggir jalan.

Seperti yang berlokasi di Jalan Raja Haji Fisabilillah, kilometer 8 atau tidak berada jauh dari Gedung Muhammadiyah, Tanjungpinang.

Sejumlah pedagang makanan tampak membuka lapak jualan di lokasi tersebut. Seorang di antaranya ialah Reza, penjual lemang bambu.

“Sejak puasa pertama sudah mulai jualan di sini, sama seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya,” kata Reza, Rabu.

Reza mengaku mulai berjualan sekitar pukul 11.00 WIB hingga menjelang berbuka puasa.

Ia memang memilih berjualan lebih awal, karena proses memasak lemang bambu dilakukannya di lokasi jualan dengan wadah yang telah disiapkan sebelumnya.

Menurutnya, proses memasak lemang bambu cukup rumit. Lemang terlebih dahulu dibungkus menggunakan daun pisang, lalu dimasukkan ke dalam seruas bambu yang sudah dibersihkan. Kemudian dibakar di atas api yang menyala.

“Membakar lemang bambu itu memerlukan waktu tiga sampai empat jam. Makanya saya jualan lebih awal,” ungkapnya.

Dalam sehari, Reza bisa menjual 20 hingga 25 batang lemang bambu. Harga lemang bambu per batang relatif murah, yakni berkisar Rp30 ribu hingga Rp35 ribu rupiah.

Pembelinya terdiri dari berbagai kalangan,  tidak hanya umat muslim, tetapi juga non muslim.

“Biasanya jam 05.00 WIB sudah habis,” ucapnya.

Dari hasil penjualan itu, Reza bisa membukukan pendapatan bersih sebesar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu rupiah.

“Alhamdulillah untungnya cukup lumayan setelah dipotong dengan modal dan lain sebagainya,” sebutnya.

Sementara, salah seorang pembeli, Maimun (29), menyatakan sangat menyukai lemang bambu.

Lemang bambu, kata dia, menjadi salah satu menu pilihan keluarga di rumahnya untuk berbuka puasa.

Dia dan keluarga juga unya cara tersendiri untuk menyantap lemang bambu, mulai dari mencampurnya  dengan tapai hingga kuah rendang.

“Tergantung selera. Kalau kami sekeluarga lebih sering mencampurnya dengan lauk-pauk,” sebut Maimun.

(Mn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here