Kondisi lapak meja Pasar Baru 1 Tanjungpinang yang kosong ditinggalkan pedagang belasan tahun.

TANJUNGPINANG, SIJORITODAY.com – Lalu kenapa banyak pedagang yang meninggalkan Pasar Baru 1 Tanjungpinang?

Ada beberapa hal yang membuat pedagang meninggalkan lapaknya di pasar itu yakni, biaya yang harus ditanggung dan juga karena pasar sepi.

Berdasarkan informasi dari pedagang, ada beberapa biaya yang harus ditanggung pedagang. Yang paling besar adalah Uang Muka Penempatan (UMP) yang ditetapkan pengelola sebesar Rp5 juta.

Ini adalah uang hangus dan tidak bisa diminta kembali. Selain itu, uang sewa meja Rp100 ribu per bulan untuk meja dan Rp200 ribu untuk kios.

Kemudian, uang kebersihan Rp6 ribu per hari. Sedangkan biaya listrik ditanggung sendiri. Misalnya, jika ada pedagang yang hendak memasang listrik, maka biayanya ditanggung sendiri termasuk bulanannya.

Pengeluaran lain misalnya, apabila bertukar nama dari pedagang lama ke pedagang baru, maka ada biaya Rp3 juta untuk kios dan Rp2 juta untuk meja.

Saat pembeli sepi dan jualan banyak tak laku, maka risiko lain adalah modal terkuras tiap hari. Wajar jika banyak pedagang yang bangkrut dan meninggalkan lapaknya di pasar itu.

Berikut ini salah satu pengakuan Sariani, salah satu pedagang di pasar tersebut.

Sariani mengatakan, dirinya makin bingung melihat kondisi pasar itu. Makin sepi. Bahkan dalam sehari, modalnya kadang tidak kembali.

Ia mencontohkan hari ini, Selasa (23/8/2022) dirinya telah mengeluarkan modal Rp150 ribu untuk membeli berbagai bumbu.

Ia belanja bahan langkop-langkop berupa serai, daun jeruk, jahe, kunyit, daun kunyit dan lain-lain. Ia juga menjual berbagai ramuan jamu dll.

Meski sudah mulai jualan dari subuh, namun modalnya saja belum balik. Pantauan di lokasi lapaknya itu selama satu jam, belum ada pembeli yang mendatangi kiosnya.

“Bahkan semalam saya hanya numpang tidur ke kios ini,” paparnya lirih.

Hal senada juga dikatakan oleh pedagang di Pasar Baru I itu. Ia merasa sedih karena semakin hari semakin sepi.

“Saya saja sudah 11 tahun jualan, kios di samping saya ini sudah banyak yang kosong,” sebutnya.

Salah satu pedagang mengatakan, Walikota Tanjungpinang Hj Rahma mungkin belum tahu kondisi pasar yang sepi ini.

Perlu terobosan baru bagi pedagang yang masih mempertahankan bangunan ini sebagai pasar tradisional.

“Pedagang lain sudah banyak pindah atau gulung tikar mungkin,” ucap Deni salah satu pedagang lainnya.

Ia menuturkan, ketika lapak meja dan kios di Pasar Baru 1 Tanjungpinang banyak yang kosong, sejumlah pedagang lama masih berusaha bertahan meski dalam kondisi sulit.

Saat ini, banyak lapak meja tempat berjualan sudah kosong baik di lantai satu maupun lantai dua. Hal itu karena ekonomi belum pulih.

Kondisi ini makin diperparah dengan makin menjamurnya pedagang di Jalan dan Lorong Gambir.

Pedagang yang kerap disebut ‘Pasar Pagi’ itu menjadi tempat belanja para pemilik warung maupun rumah makan serta rumah tangga.

Akibatnya, kondisi Pasar Baru 1 makin sepi karena sudah duluan belanja di Pasar Pagi. Jadinya, pedagang di Pasar Baru 1 pun banyak juga yang meninggalkan lapaknya dan akhirnya berjualan di Lorong dan Jalan Gambir.

Satu per satu pedagang di Pasar Baru 1 angkat kaki dan membuat beberapa lapak kosong. Para pembeli pun makin enggan belanja ke Pasar Baru setelah melihat banyak lapak kosong.

Pada prinsipnya, para pembeli akan berkerumun di tempat yang ramai. Bukan ke tempat yang sepi.

Di saat kondisi Pasar Baru 1 seperti ini, masih ada pedagang lama yang bertahan dan tidak pindah ke Pasar Pagi Lorong Gambir.

Padahal mereka kesulitan untuk membayar uang sewa setiap bulan ke pengelola pasar.

Itulah yang dialami salah satu pedagang Pasar Baru 1 Tanjungpinang, Saragih yang juga suami anggota DPRD Kota Tanjungpinang.

Selama ini Saragih dan pedagang lain bertahan di Pasar Baru 1 agar pasar itu tetap hidup. Sebab, itulah pasar sesungguhnya yang disiapkan pemerintah untuk para pedagang.

Di saat banyak pedagang yang tidak sanggup lagi membayar uang sewa ke pengelola yakni BUMD Kota Tanjungpinang, Saragih serta pedagang lain tetap bertahan hidup dan berusaha meramaikan pasar tersebut.

Harusnya BUMD berterimakasih kepada para pedagang seperti mereka ini yang tidak meninggalkan pasar meski dalam kondisi sulit.

Pemerintah harus melihat kondisi pedagang saat ini yang makin kesulitan akibat ekonomi yang belum membaik sejak pandemi hingga pascapandemi.

Jangan sampai menimbulkan gejolak di pasar yang membuat pedagang resah. Kenyamanan pedagang di pasar harus dijaga terutama saat kondisi keuangan mereka sedang terpuruk.

Pantauan di lapangan, memang banyak kios dan lapak yang kosong karena ditinggalkan para pedagang.

Deni, pedagang lain di pasar itu mengaku pembeli makin sepi yang datang ke pasar itu.

Karena itulah, dirinya selalu kesulitan untuk membayar sewa, uang kebersihan dan listrik. Ia bertahan meski kesulitan dengan harapan ada perubahan ke depan.

“Dulu saya sewa banyak kios, sekarang hanya tiga karena tak mampu bayar sewa. Ditawarkan yang kosong lain pun saya gak bisa ambil,” ucapnya.

Wancana Rahma, Pedagang Jalan Gambir Dipindahkan.

Wali Kota Tanjungpinang Hj Rahma menginformasikan pedagang di Jalan Gambir akan dipindahkan ke dalam. Ke Pasar Baru 1.

Ia menuturkan, pemerintah akan menata kota supaya tetap rapi dan tentu saja akan mengembalikan fungsi Pasar Baru I sebagai pasar tradisional.

Jika ingin menyelamatkan Pasar Baru 1, maka pedagang harus direlokasi ke dalam. Sehingga pembeli masuk ke pasar itu jika ingin belanja.

Terkait hal ini, Anggota DPRD Tanjungpinang Ria Ukur Rindu Tondang mengaku setuju dengan wancana ini.

“Harusnya sejak lama bisa diselesaikan pemerintah persoalan ini. Saya setuju bila itu bisa dilakukan kepala daerah,” tuturnya.

Bila perlu pemerintah membebaskan biaya UMP senilai Rp5 juta itu. Jadi pedagang tersebut mau pindah.

Seiring berjalan waktu, bila sudah ada penghasil nanti sewanya bisa diambil.

Kondisinya saat ini, pedagang di Jalan Gambir tentu keberatan bila harus membayar UMP dan sewa tiap bulannya.

Padahal bila berjualan di pinggir jalan, tidak ada biaya yang dikeluarkan.

“Saya harap kepala daerah tahu kondisi ini. Jadi persoalannya bisa clear,” paparnya.

Sementara itu, sebagian pedagang Pasar Baru II mengeluhkan lokasi relokasi pasar di belakang Kantor Disdukcapil Tanjungpinang, Batu 7.

Menurut mereka, lokasi itu tidak mampu menampung seluruh pedagang. Lokasinya tidak dilintasi hilir mudik kendaraan.

Rencana relokasi pasar tersebut karena Pemprov Kepri akan memugar pasar itu dan akan dimulai Oktober ini. Sehingga pedagang dipindahkan dulu untuk sementara.

Penulis: Pr
Editor: Liza

Baca Juga : Pedagang Banyak yang Bangkrut 

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here